page contents

DIRI (SELF) ADALAH MASALAH YANG TAK MAMPU DIPECAHKAN OLEH PIKIRAN

Dapatkah pikiran memecahkan masalah kita?
Apakah dengan cara memikirkan masalah itu berulang-ulang, Anda dapat memecahkannya?
.
Apapun masalahnya -ekonomi, sosial, agama- dapatkah itu benar2 dapat dipecahkan dengan berpikir?
.
Dalam kehidupan lo sehari2, semakin lo memikirkan suatu persoalan, semakin rumitlah, semakin tidak tegaslah, semakin tidak pastilah masalah itu. Bukankah seperti itu dalam kehidupan aktual kita sehari2?
.
lo mungkin, dalam memikirkan aspek2 tertentu dari masalah itu, melihat lebih jelas sudut pandang orang lain, tapi pikiran tak dapat melihat kelengkapan dan kepenuhan masalah itu; pikiran hanya dapat melihat sebagian, dan jawaban sebagian bukanlah jawaban yg lengkap, karenanya itu bukanlah solusinya.
.
Semakin lo memikirkan suatu masalah, semakin lo menyelidiki, menganalisa, dan mendiskusikannya, maka semakin komplekslah masalah itu.
.
Jadi, mungkinkah untuk melihat masalah secara komprehensif, menyeluruh? Bagaimana ini mungkin? Karena bagi gue, inilah nampaknya yang menjadi masalah utama lo. Masalah2 lo menjadi berlipatganda, tentang adanya bahaya perang yang segera terjadi, tentang adanya berbagai macam gangguan dalam hubungan cinta lo…. lalu bagaimana kita bisa memahami semua itu secara komprehensif, sebagai suatu keseluruhan?
.
Jelas, ini hanya dapat dipecahkan hanya jika kita dapat melihatnya sebagai suatu keseluruhan -bukan di dalam kotak2, tidak terbagi2. Kapankah itu mungkin? Tentu, ini hanya mungkin jika proses berpikir yg memiliki sumbernya di dalam ‘aku (me)’, sang diri, dengan latar belakang tradisi, pengkondisian, prasangka, harapan, putus asa, telah berakhir.
.
Dapatkah lo memahami ‘diri’ ini, dengan tidak menganalisa, namun dengan melihat sesuatu sebagaimana adanya, sadar (aware) akan hal itu sebagai suatu fakta, dan bukan sebagai suatu teori -tidak berusaha untuk melenyapkan sang diri dalam rangka mencapai suatu hasil namun melihat aktivitas sang diri, sang ‘aku’, secara konstan dalam tindakan?
.
Dapatkah lo melihatnya (diri/aku itu), tanpa gerakan apapun untuk menghancurkan atau untuk mendorong(nya)? Bukankah Itu masalahnya? Jika, dalam tiap2 diri lo, tidak ada pusatnya sang ‘aku’, bersama dengan keinginannya akan kekuatan, posisi, otoritas, kelanggengan, pelestarian-diri, pastilah masalah2 kita akan berakhir.
.
Si ‘diri’ adalah masalah yg tak dapat dipecahkan oleh pikiran. Harus ada ke-sadar-an (awareness) yang bukan dari pikiran. Sadar, tanpa pengutukan atau penghakiman, terhadap aktivitas sang diri, hanya dengan sadar, itu saja sudah cukup.
.
~Jiddu Krishnamurti

 

http://mediabelanjaunik.xyz/ebook-vibrasi-cinta/

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *