page contents

Mencintai tanpa pamrih (tetap mencintai menggunakan refleksi dari cinta dan toleransi diri sendiri)

Banyak kejadian seputar kehidupan romansa yg menimpa mungkin orang-orang disekitar lo, apakah mereka menikah atau tdk, memikirkan cara bagaimana mereka bisa tetap mencintai pasangannya selama mungkin, begitu juga sebaliknya, mereka juga berpikir bagaimana bisa dicintai oleh pasangan mereka selama mungkin. Kenyataannya tdk semua pasangan berakhir bahagia bersama.
.
Mungkin itu inti blog aku kali ini. Sebuah pemikiran kecil yg muncul saat nongkrong sendirian di alun-alun Malang. tdk sengaja duduk dekat sepasang ABG yg mungkin lagi pacaran, masing-masing berpendpt apa yg telah mereka lakukan demi pasangannya, entah apa awal mula perdebatan itu terjadi, namun yg aku dengar betul,
“Ya sudah, terserah apa mau lo, aku tdk perduli, setdknya aku sudah lakukan apa yg harus aku lakukan. lo cowo kan? Masa ga bisa punya kemampuan lebih untuk bertahan”.
“Oke, aku ikuti mau lo, kita putus !!”
Kemudian sang pria pergi bersama teman-temannya. Dan yg perempuan berjalan menghampiri seorang pria yg nampaknya sedari tadi menunggunya.

Lha.. Blaiik.. Koq endingnya jadi aneh yah? Itu yg muncul dlm benak aku. Bukankah tadi mereka saling mendebatkan siapa yg paling banyak/unggul saat memberikan perhatian kepada pasangannya masing-masing? Whatever-lah… Satu hal yg jelas aku tangkap dari kejadian tadi, bahwa memang kualitas dirilah yg akan menentukan sejauh apa hubungan itu tetap akan bisa bertahan. Karena dengan kualitas itu pula sebuah hubungan mempertaruhkan segalanya, sudah bisa dipastikan akan selalu ada masalah di sepanjang jalan. Kuncinya adalah dlm cara mereka menangani situasi seperti ini untuk membantu menyelamatkan hubungan mereka. Kabar baiknya adalah, ada banyak cara yg dpt lo coba jika lo salah satu dari orang-orang yg ingin tetap mencintai. yg penting adalah lo memiliki tekad untuk membuat hubungan lo berjalan lancar dan juga mengalokasikan waktu untuk pasangan lo.

Dari beberapa pengalaman pribadi mungkin aku punya sedikit pemikiran tentang beberapa hal untuk membantu lo berdua tetap mencintai dan bahagia. lo juga dpt menggunakan apa yg terdpt dlm blog aku ini untuk belajar bagaimana untuk menyelamatkan hubungan lo hari ini, jika saat ini sedang tdk baik.

Jangan pergi tidur ketika lo masih mengalami masalah yg belum terselesaikan. Ini adalah salah satu hal simpel yg baik dari banyak pasangan. Dan itu masuk akal. Sebab andai lo memiliki perdebatan hari itu, maka lo masih akan memilikinya saat bangun keesokan harinya. Jadi, selalu lebih baik untuk menyelesaikannya terlebih dahulu sebelum lo tidur.

Berbicara satu sama lain. tdk harus tentang sesuatu yg serius. lo dpt berbicara tentang apa pun. Tanyakan pada pasangan lo bagaimana harinya di tempat kerja. Memulai percakapan tentang segala topik yg menarik yg telah lo baca akhir-akhir ini di majalah atau website. yg penting adalah lo berdua menghabiskan waktu yg berkualitas melalui percakapan.

Berikan hadiah kecil (bagi yg sudah memiliki hubungan, sangat tdk disarankan bagi yg masih PDKT) yg menyenangkan bahkan jika tdk ada acara khusus. Jelas, ini adalah satu saran efektif jika lo ingin seseorang menyukai lo lagi. Jadi bagaimana lo jatuh kembali jatuh cinta? Sering kali itu adalah melalui tindakan-tindakan kecil tapi bijaksana seperti ini.

Tetap seintim mungkin. Sebuah pelukan atau cium tangan di pagi hari biasanya merupakan cara yg bagus untuk memulai hari. Bagi yg sudah menikah jangan lupa ciuman pasangan lo sebelum lo pergi bekerja. Atau hanya berbisik “aku mencintaimu” di setiap kesempatan yg lo dptkan.

Pergi kencan. Menonton film, konser, atau drama. Pergi ke restoran yg lo anggap unik (tdk perlu mahal) dan menghidupkan kembali hari-hari ketika lo masih mencoba mengenal satu sama lain. tdk hanya itu hal yg menyenangkan untuk dilakukan, tetapi akan menimbulkan perasaan cinta untuk satu sama lain.

Sementara ada hal lain yg bisa lo ikuti tentang cara untuk tetap jatuh cinta atau bahkan tentang bantuan pernikahan, yg disebutkan di sini bisa menjadi awal yg baik untuk lo. Sekali lagi, habiskan waktu untuk melakukan upaya pada hubungan lo dan lo pasti akan menemukan bahwa itu dpt benar-benar mudah untuk dilakukan dan tanpa pamrih apapun.

Ketika lo berbicara cinta, maka ada sisi negatif yg selalu menyertainya, yah benar, “pamrih”. Seperti yg aku sampaikan diakhir paragraf diatas. Apakah lo pernah mengalami bagaimana pengalaman cinta lo muncul dengan pamrih? Dengan kata lain, jika demikian adanya yg lo ingin mereka lakukan, maka lo mencintai mereka. Dan, ketika mereka tdk … apakah lo “tdk mencintai” mereka? Atau, kadang-kadang lo merasakan cinta tak bersyarat dan penerimaan dari kekasih lo, tapi hanya jika lo cocok dengan mereka. Dan, ketika tdk … lo merasa “tdk dikasihi.”
dlm banyak hal, pengalaman aku tentang hubungan dpt diamati melalui fenomena media sosial online. Hubungan lo, kasual atau intim, pribadi atau profesional, telah mulai mencerminkan diri lo di dunia elektronik dan virtual, yaitu Facebook. Sebuah nama muncul. Jika lo “suka” mereka, lo klik konfirmasi. Jika lo tdk menyukai mereka (atau tdk mempercayai mereka), lo klik abaikan. Setelah jadi teman, mereka mulai muncul di dunia lo melalui newsfeed, bersama dengan newsfeeds orang lain, dan karenanya “komunikasi” dimulai …

lo berkomentar, berbagi, chatting, mengundang, RSVP, kata-kata kasar, tertawa, menangis. Dan ketika “status” mereka mulai menyinggung perasaan lo, lo hindari, lo memata-matai, lo bersembunyi, lo hapus, lo mengabaikan, lo offline, atau lo “un-friend”. Dan cling! … hanya seperti itu, mereka menghilang dari alam semesta lo. Dibuang….
Dan satu lagi, yg berjalan seperti yg di dunia nyata: orang-orang dlm hidup lo (seperti di Facebook), tdk tahu mereka telah dibuang… Sampai mereka mencoba utk berkomunikasi dan menemukan bahwa koneksi telah terputus. Atau bahkan lebih buruk : Diblokir!

dlm banyak hal, pengalaman lo tentang hubungan dpt diamati melalui fenomena media sosial online. Mekanisme ini mencerminkan program, proses, dan penilaian diri lo sendiri dan satu sama lain. Alasan keberadaan mereka ialah karena lo “memprogram” mereka. Program ini berasal dari sistem cinta dan koneksi lo sebagai individu dan sebagai komunitas.

Mulai lihat bagaimana program bekerja dengan respons yg otomatis yg mengalir, atau mengerut, berdasarkan preferensi. Lihat bagaimana semua ini ialah refleksi dari cinta dan toleransi diri sendiri. yg dimaksud ialah, karena lo berusaha utk memperdlm kesadaran lo tentang kejujuran dan penerimaan sendiri, lo akan memperhatikan bagaimana lo terbuka dan menerima orang lain. Lihat bagaimana pengalaman cinta dipengaruhi oleh keinginan utk bebas memberikan cinta kepada mereka yg muncul di daftar teman, dan mereka yg tdk.

Luangkan waktu sejenak dan mulai melihat program cinta dan koneksi lo. Lihat apakah ada aplikasi yg lo butuhkan utk men-download seperti cinta, penerimaan, kegembiraan, dan kesabaran. Atau, apakah ada aplikasi lain yg siap utk lo hapus seperti intoleransi, balas dendam, ketdksetiaan, atau marah? Perhatikan apakah ada orang yg sudah “tdk berteman” karena perbedaan pendpt, preferensi, atau ketersediaan. Bagaimana jika ada cara lain utk melihatnya? Bagaimana jika lo bisa memberi dan menerima cinta dengan cara yg mempengaruhi pemrograman lo? Bagaimana jika program lo telah terkontaminasi dengan virus yg disebut, “jalan aku atau jalan raya?” Bagaimana jika mencintai seseorang tdk ada hubungannya dengan apa yg mereka lakukan, tapi siapa mereka? Dan, bagaimana jika itu semua sesederhana dan juga sekompleks itu?

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *